Suku
Rejang
- Penjelasan tentang suku Rejang .
Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatera selain suku bangsa Melayu. Suku Rejang menyebar
sampai ke daerahLebong, Kepahiang, Curup dan
sampai di tepi sungai ulu musi di perbatasan dengan Sumatera Selatan. Suku Rejang terbanyak menempati kabupaten Rejang Lebong, kabupaten
Kepahiang, dan kabupaten Lebong. Bila kita lihat dari dialek bahasa yang
digunakan penutur bahasa Rejang, sangat jelas perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa daerah di Sumatera lainnya. Suku
Rejang merupakan salah satu dari 18 lingkaran suku bangsa terbesar di Indonesia.
- Sejarah .
Sejarah asal-usul Rejang yang sebenarnya sudah sangat tidak
memungkinkan diriwayatkan secara benar senyata fakta sebenarnya. Hal ini
disebabkan beberapa faktor yang mengakibatkan sejarah asal-usul Rejang yang
terhapus dan hilang ditelan ketidaktahuan generasi masa lalu. Faktor-faktor
tersebut adalah sebagai berikut:
§ Suku Rejang belum memahami media yang berperan
untuk dijadikan pedoman yang tepat untuk meriwayatkan sejarah, seperti
kemampuan menggambar, menulis, memahat, maupun hal-hal lain yang dapat
memungkinkan untuk terdeteksi oleh generasi yang akan datang untuk
disejarahkan. Bukti-bukti arkeolog tersebut belum ditemukan keberadaannya
hingga zaman sekarang.
§ Suku Rejang masih dipengaruhi oleh tradisi yang
bersifat fiktif, sehingga hal-hal yang tidak masuk akal dimasukkan dalam kisah
sejarah. Hal ini menjadikan sejarah asal-usul Rejang menjadi kisah fiktif yang
validitas dan reliabilitasnya jauh dari patokan untuk meriwayatkan sejarah.
§ Suku Rejang tidak terlalu mempedulikan masa
lampu, tapi menerima sejarah masa lalu yang diriwayatkan oleh para sejarawan
dan cendikiawan asing yang berstatus penjajah. Hal ini juga dihubungkan dengan
beberapa oknum suku Rejang yang terlalu percaya diri berpendapat menurut kemauannya
sendiri, padahal kemampuan berbahasa Rejang dengan berbagai dialek Rejang yang
ada tidak dikuasainya. Suku Rejang yang berpartisipasi dalam proyek tersebut
juga bukan berstatus orang Rejang asli, apalagi menjalani kehidupan di
komunitas suku Rejang yang masih asli.
§ Suku Rejang dengan sumber daya alam yang paling
dieksploitasi oleh penjajah menjadi daerah yang dijadikan asal-usul suku
Rejang. Ini disebabkan oleh rekayasa dari para penjajah yang memang memiliki
kemampuan membaca dan menulis, sedangkan suku Rejang sangat dibodohkan. Sifat
dari penjajah yang seperti ini sudah diketahui oleh para sejarawan Indonesia,
yakni penjajah menjauhkan bangsa Indonesia untuk mengetahui ilmu pengetahuan
modern. Pengetahuan modern seperti kemampuan ilmu bahasa, ilmu hitung, ilmu
filsafat, maupun ilmu-ilmu modern yang lainnya belum didapatkan oleh suku
Rejang yang merupakan suku bangsa di Indonesia. Ini terbukti dengan aksara kaganga yang konon merupakan
tulisan asli suku Rejang, tapi pada kenyataan tidak mampu dipahami suku Rejang
masa silam hingga masa sekarang. Hal ini juga menumbuhkan keraguan bahwa aksara
tersebut adalah asli tulisan suku Rejang yang memang prakarsa suku Rejang itu
sendiri.
§ Suku Rejang terlalu suka meniru secara tidak
kreatif, ini terbukti dengan alat musik tradisional, tari tradisional, rumah
adat, adat upacara pernikahan, dan bahkan pakaian adat yang ada semuanya
imitasi dari suku bangsa terdekat dan pendatang yang ada di tanah Rejang.
Fenomena ini secara kasat mata dapat langsung ditebak oleh setiap pengamatnya,
meskipun pengamat tersebut adalah seorang amatir.
Dari beberapa faktor di atas, sulit sekali mendeteksi sejarah
asal-usul suku Rejang. Meskipun demikian, masih ada satu peninggalan yang masih
diwariskan secara nyata dan masih ada hingga sekarang. Warisan tersebut adalah
bahasa Rejang, sebuah bahasa yang unik yang belum punah hingga sekarang.
Walaupun bukti-bukti arkeologi belum ada terbukti keberadaannya secara fakta,
tapi bahasa dapat dijadikan pedoman menelusuri sejarah Rejang. Hal ini
membuktikan bahwa orang yang paling berperan untuk meriwayatkan Rejang adalah
suku Rejang dengan kemampuan bahasa Rejang tingkat mahir atau penutur asli
bahasa Rejang yang mampu berkomunikasi dengan orang-orang Rejang dengan
kemampuan meriwayatkan kisah lampau secara ilmiah.
- Budaya .
Suku Rejang menempati
kabupaten Rejang Lebong, kabupaten Kepahiang, kabupaten Bengkulu Utara, dan
kabupaten Lebong. Suku ini merupakan suku dengan populasi terbesar di provinsi
Bengkulu, suku ini tidak adaptif terhadap perkembangan di luar daerah. Ini
dikarenakan kultur masyarakat
Rejang yang sulit untuk menerima pendapat di luar dari pendapat kelaziman
menurut pendapat mereka, dan ini menjadi bukti keyakinan dan ketaatan mereka
terhadap adat-istiadat yang berlaku sejak dahulu kala. Hal ini menggambarkan
bahwa sejak zaman dahulu suku Rejang telah memiliki adat-istiadat. Karena
mayoritas suku Rejang masih mempertahankan kebudayaan mereka, tidak heran jika
hukum adat yang berupa denda dan cuci kampung masih dipertahankan hingga
sekarang. Suku Rejang sangat memuliakan harga diri, seperti halnya penjagaan
martabat kaum perempuan, penghinaan terhadap para pencuri, dan penyiksaan dan
pemberian hukum denda terhadap pelaku zina. Pada zaman
sekarang, sudah banyak putra-putri suku Rejang telah menempuh pendidikan tinggi
seperti ilmu pendidikan keguruan, ilmu kesehatan, ilmu hukum, ilmu ekonomi,
sastra, dan lain-lain. Banyak yang telah menekuni profesi sebagai pegawai negeri, pejabat teras, dokter, pegawai swasta,
pengacara, polisi, dan berbagai profesi yang memiliki kehormatan menurut
masyarakat modern pada era sekarang ini.
- Bahasa .
Suku Rejang memiliki perbedaan yang mencolok dalam dialek
penuturan bahasa. Dialek Rejang Kepahiang memiliki perbedaan dengan dialek
Rejang di Kabupaten Rejang Lebong yang dikenal dialek Rejang Curup, dialek Rejang
Bengkulu Utara (identik dengan dialek Rejang Curup), dan dialek Rejang yang
penduduknya di wilayah kabupaten Lebong. Secara kenyataan yang ada, dialek
dominan Rejang terdiri tiga macam. Dialek tersebut adalah sebagai berikut:
§ Dialek Rejang Kepahiang
§ Dialek Rejang Curup
§ Dialek Rejang Lebong
Dari tiga pengelompokan dialek Rejang tersebut, saat ini Rejang
terbagi menjadi Rejang Kepahiang, Rejang Curup, dan Rejang Lebong. Namun,
meskipun dialek dari ketiga bahasa Rejang tersebut relatif berbeda, tapi setiap
penutur asli bahasa Rejang dapat memahami perbedaan kosakata pada saat komunikasi berlangsung. Karena perbedaan tersebut
seperti perbedaan dialek pada bahasa Inggris Amerika, bahasa Inggris Britania,
dan bahasa Inggris Australia. Secara filosofis, perbedaan dialek bahasa Rejang
terjadi karena faktor jarak, faktor sosial, dan faktor psikologis dari suku
Rejang itu sendiri. Hal ini juga membuktikan bahwa tingkat persatuan dan
kesatuan suku Rejang masih sangat rendah jika dibandingkan dengan suku bangsa
terdekat lainnya suku Lembak, suku Serawai, dan suku Pasemah. Itu
disebabkan karena suku Rejang bukan suku bangsa perantau sehingga tingkat
kepemilikan tanah mereka tergolong tinggi, mereka masih mudah dipengaruhi devide et empera yang dilancarkan penjajah sejak zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Pada zaman sekarang, politik pecah belah
tersebut dilancarkan oleh golongan tertentu dengan tujuan yang relatif sama
dengan penjajahan Hindia-Belanda.
-Kesimpulan .
Dari suku ini kita bisa
mengambil kesimpulan bahwa suku unu terlahir di daerah Sumatra yang di mana pada
zaman dulu mereka menggunakan bahasa Melayu bercampur dengan bahasa daerah
sekitar Sumatra sebagai alat komunikasi mereka untuk berinteraksi .Dalam hal
ini suku rejang sulit untuk mengalami perubahan di karenakan hukum-hukum adat
yang masih di pertahankan dan kepercayaan yang di pegang dari zaman nenek
moyang mereka . Suku ini sampai saat ini masih sangat kental keberadaanya dan
sangat tertutup oleh kebudayaan luar yang makin berkembang . Karena kebudayaan
dan hokum-hukum yang masih di pegang kuat sampai saaat ini membuat suku ini
semakin tertingal zaman dari suku-suku yang mengalami perubahahan seperti
suku-suku yang lainnya yang ada di INDONESIA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar